Follow by Email

Fish

Jumat, 25 November 2011

Visi dan Misi Sekolah


PEMBAHASAN
A. Konsep Visi Sekolah
Penerapan konsep manajemen strategis di sekolah menuntut setiap sekolah untuk dapat menetapkan dan mewujudkan visi yang hendak dicapai dari sekolah tersebut secara eksplisit. Namun, sayangnya upaya perumusan visi yang terjadi di sekolah-sekolah kita saat ini terkesan masih latah (stereotype) dan sekedar pengulangan dari nilai dan prioritas nasional. Dari beberapa sekolah yang pernah penulis amati, pada umumnya perumusan visi sekolah cenderung menggunakan rumusan dua kata yang hampir sama yaitu “prestasi” dan “iman-taqwa”, Memang bukahlah hal yang keliru jika sekolah hendak mengusung visi sekolah dengan merujuk pada kedua nilai tersebut. Tetapi jika perumusannya menjadi seragam, kurang spesifik serta kurang inspirasional mungkin masih patut untuk dipertanyakan kembali.
Boleh jadi, hal ini mengindikasikan adanya kesulitan tersendiri dari sekolah (pemimpin dan warga sekolah sekolah yang bersangkutan) untuk merumuskan visi yang paling tepat bagi sekolahnya, baik kesulitan yang terkait tentang pengertian dasar dari visi itu sendiri maupun kesulitan dalam mengidentifikasi dan merefleksi nilai-nilai utama yang hendak dikembangkan di sekolah.
Dalam perspektif manajemen, visi sekolah memiliki arti penting terutama berkaitan dengan keberlanjutan (sustainability) organisasi sekolah itu sendiri, Tanpa visi, organisasi dan orang-orang di dalamnya tidak mempunyai arahan yang jelas, tidak mempunyai cara yang tepat dalam melangkah ke masa depan dan tidak memiliki komitmen (Foreman, 1998).
Saat ini tidak sedikit sekolah yang berjalan secara stagnan dan bahkan terpaksa harus gulung tikar, hal ini sangat mungkin dikarenakan tidak memiliki visi yang jelas alias asal-asalan atau setidaknya tidak berusaha fokus dan konsisten terhadap visi yang dicita-citakannya.
Visi bukanlah sekedar slogan berupa kata-kata tanpa makna bahkan bukan sekedar sebuah gambaran kongkrit yang diberikan oleh pimpinan sekolah, melainkan sebuah rumusan yang dapat memberikan klarifikasi dan artikulasi seperangkat nilai (Hopkins, 1996). Menurut Block (1987), visi adalah masa depan yang dipilih, sebuah keadaan yang diinginkan dan merupakan sebuah ekspresi optimisme dalam organisasi. Bennis and Nanus (1985) mengartikan visi sebagai pandangan masa depan yang realistis, kredibel, dan menarik, yang didalamnya tergambarkan cara-cara yang lebih baik dari cara yang sudah ada sebelumnya.
Memperhatikan pendapat para ahli di atas, tampak bahwa untuk menetapkan visi sekolah kiranya tidak bisa dilakukan secara sembarangan, tetapi terlebih dahulu diperlukan pengkajian yang mendalam. Perumusan visi yang tepat harus dapat memberikan inspirasi dan memotivasi bagi seluruh warga sekolah dan masyarakat untuk bekerja dengan penuh semangat dan antusias. Menurut Blum dan Butler (1989) visi sangat identik dengan perbaikan sekolah.
Visi merupakan ciri khas peran kepemimpinan dan upaya untuk pembentukan visi sekolah sangat bergantung pada pemimpin sekolah yang bersangkutan. Dalam hal ini pemimpin sekolah dituntut untuk dapat mengidentifikasi, mengklarifikasi dan mengkomunikasikan nilai-nilai utama yang terkandung dalam visi sekolah kepada seluruh warga sekolah, agar dapat diyakini bersama dan diwujudkan dalam segala aktivitas keseharian di sekolah sehingga pada gilirannya dapat membentuk sebuah budaya sekolah.
Kendati demikian, dalam pembentukan visi sekolah tidak bisa dilakukan secara “top-down” yang bersifat memaksa warga sekolah untuk menerima gagasan dari pemimpinnya (kepala sekolah) yang hanya membuat orang atau anggota membencinya dan merasa enggan untuk berpartisipasi di dalamnya . Foreman (1998) mengingatkan bahwa visi tidak bisa dipaksakan dan dimandatkan dari atas. Pembuatan visi adalah tentang keterlibatan kepentingan dan aspirasi pihak lain.
Untuk lebih jelasnya terkait dengan upaya pembentukan visi ini, Beare et.al. (1993) menawarkan beberapa pedoman dalam pembentukan visi, yaitu:
  1. Visi seorang pemimpin sekolah mencakup gambaran tentang masa depan sekolah yang diinginkan.
  2. Visi akan membentuk pandangan pemimpin sekolah tentang apa yang menyebabkan keutamaan atau keunggulan sekolah.
  3. Visi seorang pemimpin sekolah juga mencakup gambaran masa depan sekolah yang diinginkan di mata sekolah lain dan masyarakat secara umum.
  4. Visi seorang pemimpin juga mencakup gambaran proses perubahan yang diinginkan berdasarkan masa depan terbaik yang hendak dicapai.
  5. Masing-masing aspek visi pendidikan dalam sekolah merefleksikan asumsi-asumsi, nilai-nilai, dan keyakinan-keyakinan yang berbeda-beda tentang (a) watak dan sifat manusia; (b) tujuan pendidikan dalam sekolah; (c) peran pemerintah, keluarga, masyarakat terhadap pendidikan dalam sekolah; (d) pendekatan-pendekatan dalam pengajaran dan pembelajaran; dan (e) pendekatan-pendekatan terhadap manajemen perubahan.
Dengan demikian, akan terbentuk visi pendidikan dalam sekolah yang kompetitif dan merefleksikan banyak hal yang mencakup perbedaan-perbedaan asumsi, nilai dan keyakinan.
1. Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah
Penetapan visi, misi, dan tujuan sekolah akan sangat berperan bagi pengembangan sekolah di masa depan. Visi dan misi saling berkaitan. Visi (vision) merupakan gambaran (wawasan) tentang sekoah yang diinginkan di masa jauh ke depan.
Misi (mission) ditetapkan dengan mempertimbangkan rumusan penugasan (yang merupakan tuntutan tugas “dari luar”) dan keinginan “dari dalam” (yang antara lain berkaitan dengan visi ke masa depan dan situasi yang dihadapi saat ini. Misi sebuah sekolah perlu mempertimbangkan misi induknya (dinas pendidikan kabupaten/kota). Misi diperjelas dan dijabarkan dengan tujuan sekolah (goals).
Tujuan sekolah seharusnya tidak betentangan dengan visi dan misi sekolah yang sudah ditetapkan. Perumusan tujuan harus nyata dan terukur.
Deskripsi visi, misi, tujuan seharusnya (1) tidak bertentangan dengan visi, misi, tujuan dinas pendidikan dan koheren dengan renstra depdiknas, (2) mencerminkan dengan jelas kebutuhan lokal dan nasional atau bahkan internasional berkaitan dengan kemampuan lulusan, (3) jelas bagi pihak-pihak yang berminat, ketercapaian tujuan dapat diamati, ditunjukkan dan dapat diuji secara objektif, dipersepsi sebagai sesuatu yang berharga oleh seluruh pihak yang berminat, realistis, (4) secara tersurat ada prioritas menghasilkan peserta didik yang bermutu.
B. Visi dan Misi Sekolah
"Visi merupakan sesuatu yang akan menghasilkan kesuksesan yang berarti" (Polale, 1973). Konsep dari visi harus mencakup dua komponen, yaitu filosofi penuntun dan gambaran yang nyata. (Collins & Porras, 1991).
Visi ditentukan untuk mendasari berbagai aspek kegiatan organisasi maka visi itu mulai direalisasikan. Visi sekolah diharapkan bisa memenuhi harapan stakeholder sehingga mampu mencapai keberhasilan yang diinginkan,
Visi harus memberikan gambaran yang jelas, tentang masa depan yang diinginkan termasuk tantangannya yang harus memenuhi kebutuhan siswa, syarat-syarat dari sebuah pernyataan visi adalah (1) menantang, yaitu harus jelas dan mungkin dicapai, (2) jelas, yaitu tidak mengundang interpretasi yang salah, (3) mudah diingat: pernyataannya tidak lebih dari 20-25 kata, (3) didasari nilai-nilai yang diyakini, (4) memungkinkan keterlibatan-pernyataan yang tidak mengekang, (5) terlihat, yaitu harus merupakan sesuatu yang bisa digambarkan, (6) mampu mengarahkan: harus mendapat respons dari semua pihak, (7) sebuah tuntunan: merupakan sesuatu yang mampu menjadi ukuran untuk tindakan semua pihak sehari-hari, (8) dihubungkan kepada siswa tes akhir sebuah visi adalah apakah ia memiliki hubungan dengan tindakan dan prestasi siswa.
Dengan memenuhi kriteria di atas visi akan berfungsi baik jika (1) sebagai sumber informasi inspirasi, (2) sebagai acuan bagi para pembuat keputusan, dan (3) merupakan kendaraan untuk menggabungkan kekuatan dalam sebuah organisasi.
C. Tujuan Sekolah
Kita dapat mengevaluasi sistem pendidikan dengan melihat kualitas lulusannya. Bila lulusannya pintar-pintar, tapi sikapnya kasar, kurang empati, sulit bersosialisasi, maka berarti sekolah tersebut berhasil di IQ, namun gagal di EQ.
Pertanyaan awal yang perlu dirtenungkan adalah : setelah bersekolah maka siswa akan mandiri dalam hal apa saja?
Masalah ini yang akan dijawab dengan model SEPIA.
Terdapat banyak sekali potensi kemampuan manusia, dari ketrampilan pertukangan, filsafat, hingga kemampuan menciptakan humor. Dengan demikian terdapat banyak hal yang dapat dikembangkan dalam diri anak didik. Pertanyaannya adalah : mana yang paling penting?
Model SEPIA mengajukan 5 wilayah keceerdasan yang paling penting agar seseorang bisa mencapai bahagia dan sukses. Lima wilayah kecerdasan itu adalah :
  • Spiritual : kemampuan mengenali dan mengelola nilai-nilai
  • Emosional : kemampuan mengenali dan mengelola emosi
  • Power : kemampuan mengenali dan mengelola kekuatan
  • Intelektual : kemampuan mengenali dan mengelola daya cipta
  • Aspirasi : kemampuan mengenali dan mengelola keinginan/aspirasi
Kelima wilayah kecerdasan tersebut dirumuskan setelah mempelajari tokoh-tokoh yang telah memberi kontribusi kehidupan yang lebih baik bagi umat manusia. Dari Rasulullah Muhammad saw, hingga Thomas Alva Edison pencipta bola lampu. Dari Aristoteles filsuf Yunani, hingga Sun Tzu ahli perang Cina. Semua faktor-faktor yang memungkinkan prestasi luar biasa mereka itu dapat dikembalikan ke model 5 kecerdasan utama SEPIA. Jadi kita dapat berharap dengan mengembangkan 5 kecerdasan tersebut, seseorang bisa mandiri untuk memberi kontribusi amal positif bagi kehidupan. Dengan demikian SEPIA menjadi acuan jenis kecerdasan mana yang penting untuk dikembangkan melalui sekolah.
SEPIA adalah acuan “APA yang harus dikembangkan” dalam diri anak didik untuk bisa mencapai kemandirian. Sedangkan “BAGAIMANA mencapainya” merupakan metode yang dapat dipilih dari berbagai metode pengajaran dan pembelajaran yang efektif. Berbagai metode pengajaran seperti active learning, quantum learning, multiple intelligence, super memory, collaborative learning, creative learning, SAVI, Brain Gym, dsb dapat digunakan dengan tujuan akhir yaitu mengembangkan 5 kecerdasan SEPIA.
klik untuk memperbesar


DAFTAR PUSTAKA
          Adaptasi dari Bush dan Coleman. 2008. Kepemimpinan Pendidikan: Manajemen Strategis (ter. Fahrurruzi). Jogjakarta: IRCiSoD.
http://pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php?menu=bmpshort_detail2&ID=281

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar