Follow by Email

Fish

Minggu, 04 Desember 2011

ISO DALAM PENDIDIKAN


ISO DALAM PENDIDIKAN
1.1.       LATAR BELAKANG MASALAH
Keadaan pendidikan di Indonesia telah banyak dilakukan pembaharuan. Tujuan pembaharuan itu adalah untuk menjaga agar produk pendidikan kita tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja, persyaratan bagi pendidikan lanjut pada jenjang pendidikan berikutnya serta mampu menghadapi persaingan globalisasi dunia internasional. Salah satu kunci agar sukses dapat bersaing dipasar global adalah kemampuan untuk menjamin adanya keragaman dalam kualitas maka perlu dibentuk standar-standar yang sama pula. Dengan cara ini maka apa yang dianggap sebagai produk berkualitas disuatu negara juga akan dapat diterima dinegara lainnya.
Di dunia global banyak sekali terdapat berbagai macam standar untuk menetapkan bahwa suatu produk itu dinyatakan “layak”, baik itu produk barang maupun produk jasa. Salah satu standar yang saat ini menjadi tolok ukur “layak-tidaknya” nya suatu produk adalah apa yang dinamakan dengan standar internasional ISO 9000.
Untuk menuju profesionalisme manajemen pendidikan maka diperlukan satu sistem manajemen mutu yang diakui dan berstandar baik secara nasional bahkan internasional. Satu sistem manajemen mutu yang telah berstandar internasional adalah ISO 9000: 2000 (baca ISO 9000 versi 2000) . ISO 9000 sebagai satu sistem manajemen mutu tidak hanya diterapkan untuk produk industri manufaktur saja tetapi juga sesuai untuk industri jasa seperti lembaga pendidikan. Beberapa lembaga pendidikan telah memulai untuk menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9000 bahkan diantaranya ada yang telah memperoleh sertifikat ISO 9000.
Kenyataannya mutu pendidikan Indonesia sampai sekarang ini belumlah mampu untuk bersaing atau bahkan menang dalam menghadapi persaingan global dalam dunia pendidikan. Salah satu hal mendasar yang dapat kita temukan dalam dunia pendidikan kita yang menunjukkan bahwa mutu pendidikan kita kurang dapat bersaing dengan dunia internasional salah satu penyebab kegagalan pendidikan dalam membangun sumberdaya manusia di Indonesia disebabkan oleh karena pengelolaan pendidikan di Indonesia belum dilakukan secara professional, manajemen pendidikan yang professional adalah manajemen yang cerdas yaitu manajemen yang mampu melaksanakan fungsi fungsi manajemen ( Planing, Doing, Checking, Reviewing ) secara sungguh sungguh, konsisten dan berkelanjutan dalam mengelola sumber daya meliputi 7M (Man, Money, Material, Methods, Machine, Market dan Minute) sehingga tujuan pendidikan kejuruan dapat dicapai secara efektif dan efisien.

1.2.       RUMUSAN MASALAH
1.  Standar –standar ISO
2.  Dasar-dasar Sistem Manajemen Mutu

1.3.       TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan yang penulis harapkan dalam pembuatan makalah ini antara lain adalah :
1.      Untuk mengetahui dasar-dasar Sistem Manajemen Mutu (Quality Management System) berdasarkan standar ISO 9001:2008 serta pengembangan dan penerapannya pada suatu organisasi pendidikan
2.      Untuk memenuhi salah satu tugas dari Mata Kuliah Manajemen pendidikan

1.4.       SISTEMATIKA PENULISAN
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB   I  Pendahuluan
1.1.       Latar Belakang
1.2.       Rumusan Masalah
1.3.       Tujuan Penulisan
1.4.       Sistematika Penulisan
BAB II    Pembahasan
BAB III  Penutup
               Kesimpulan
Daftar Pustaka



BAB II
PEMBAHASAN

2.1.  SEJARAH ISO
 Organisasi Internasional Untuk Standarisasi (ISO) adalah merupakan :
1.      Organisasi internasional untuk standardisasi, merupakan federasi dunia badan-badan standar nasional anggota ISO
2.      Didirikan pada tahun 1947, berkedudukan di Jenewa, Swiss    
3.      Keanggotaan : Badan standar dari sekitar 130 negara
4.      Tugas : Menghasilkan perjanjian internasional yang diterbitkan   menjadi standar internasional
5.      Jumlah standar yang telah diterbitkan sekitar 13.000 standar (termasuk standar ISO 9000)
6.      Memiliki lebih dari 200 Technical  Committee

2.2.  PENGERTIAN ISO
ISO merupakan kepanjangan dari Internasional Standar Organisasi, atau suatu organisasi yang berstandar internasional yang berazaskan bahwa ”Segala I’tikad dan Setiap Upaya yang sungguh-sungguh untuk memperbaiki Kinerja dalam segala Bidang yang diamanahkan kepada setiap Orang, adalah ’Ruh’ dari Sistem Manajemen Mutu ISO 9001”

2.3.  SERI ISO 9000 VERSI 2000
ISO 9000 merupakan standar internasional dimana suatu organisasi (termasuk didalamnya institusi pendidikan) yang memiliki sertifikat ISO 9000 tersebut kualitasnya diakui oleh dunia internasional dan dapat memperoleh akses yang lebih besar untuk memasuki pasar luar negeri, terutama dalam hal membuka cabang institusi dan “peng-eksporan” tenaga jasa pendidikan diluar negeri terutama Negara yang mensyaratkan dipenuhinya ISO 9000 dan memiliki kesesuaian (compatibility) dengan pemasok dari luar negeri
  • ISO 9000 - Quality Management Systems - Fundamentals and Vocabulary: mencakup dasar-dasar sistem manajemen kualitas dan spesifikasi terminologi dari Sistem Manajemen Mutu (SMM).
  • ISO 9001 - Quality Management Systems - Requirements: ditujukan untuk digunakan di organisasi manapun yang merancang, membangun, memproduksi, memasang dan/atau melayani produk apapun atau memberikan bentuk jasa apapun. Standar ini memberikan daftar persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah organisasi apabila mereka hendak memperoleh kepuasan pelanggan sebagai hasil dari barang dan jasa yang secara konsisten memenuhi permintaan pelanggan tersebut. Implementasi standar ini adalah satu-satunya yang bisa diberikan sertifikasi oleh pihak ketiga.
  • ISO 9004 - Quality Management Systems - Guidelines for Performance Improvements: mencakup perihal perbaikan sistem yang terus-menerus. Bagian ini memberikan masukan tentang apa yang bisa dilakukan untuk mengembangkan sistem yang telah terbentuk lama. Standar ini tidaklah ditujukan sebagai panduan untuk implementasi, hanya memberikan masukan saja.
Masih banyak lagi standar yang termasuk dalam kumpulan ISO 9000, dimana banyak juga diantaranya yang tidak menyebutkan nomor "ISO 900x" seperti di atas. Beberapa standar dalam area ISO 10000 masih dianggap sebagai bagian dari kumpulan ISO 9000. Sebagai contoh ISO 10007:1995 yang mendiskusikan Manajemen Konfigurasi dimana di kebanyakan organisasi adalah salah satu elemen dari suatu sistem manajemen.

2.4.  TUJUAN ISO 9000
Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (2002) menyatakan bahwa tujuan utama dari ISO 9000 adalah:
  1. Organisasi harus mencapai dan mempertahankan kualitas produk atau jasa yang dihasilkan, sehingga secara berkesinambungan dapat memenuhi kebutuhan para pengguna (costumer).
  2. Organisasi harus memberikan keyakinan kepada pihak manajemennya sendiri bahwa kualitas yang dimaksudkan itu telah dicapai dan dapat dipertahankan.
  3. Organisasi harus memberikan keyakinan kepada pihak costumer bahwa kualitas yang dimaksudkan itu telah atau akan dicapai dalam produk atau jasa yang dijual.
2.5.MANFAAT ISO 9000
Manfaat yang didapatkan oleh suatu organisasi/institusi (baik itu lembaga pendidikan) yang telah memperoleh sertifikasi ISO 9000 adalah diperolehnya suatu akses yang lebih besar untuk memasuki pasar luar negeri (terutama mensyaratkan dipenuhinya ISO 9000) dan memiliki kesesuaian (compatibility) dengan pemasok dari luar negeri. Selain itu ada pula manfaat tambahan lainnya. Proses yang dilakukan oleh organisasi untuk mencapai sertifikasi cenderung meningkatkan kualitas dan keragaman pekerjaan yang secara bersamaan juga meningkatkan produktivitas yang pada gilirannya dapat meningkatkan pula daya saing organisasi.

2.6. PERSYARATAN SERTIFIKASI ISO 9000 DALAM PENDIDIKAN
Edward Sallis dalam bukunya Total Quality Management in Education atau Manajemen Mutu Pendidikan (2007) menyatakan bahwa ada beberapa syarat sebuah organisasi/institusi pendidikan agar bisa mendapatkan sertifikasi ISO 9000, yaitu:
1.         Komitmen Manajemen terhadap Mutu
2.         Sistem Mutu
3.         Kontrak dengan Pelanggan Internal & Eksternal (Hak Pelajar dan Hak Pelanggan Eksternal, seperti orang tua)
4.         Kontrol Dokumen
5.         Kebijakan Seleksi & Ujian Masuk
6.         Layanan Pendukung Pelajar, yang mencakup Kesejahteraan, Konseling dan Pengarahan Tutorial
7.         Catatan Kemajuan Pelajar
8.         Pengembangan, Desain dan Penyampaian Kurikulum~Strategi-strategi Pengajaran dan Pembelajaran
9.         Penilaian Tes
10.     Konsistensi Metode Penelitian
11.     Prosedur dan Catatan Penilaian yang mencakup Catatan Prestasi
12.     Metode dan Prosedur Diagnostik untuk Mengidentifikasikan Kegagalan dan Kesalahan
13.     Tindakan Perbaikan terhadap Kegagalan Pelajar, Sistem untuk Menghadapi Komplain dan Tuntutan
14.     Fasilitas & Lingkungan Fisik, Bentuk Tawaran Lain, seperti Fasilitas Olah Raga, Kelompok-kelompok dan Perkumpulan Ekstra Kurikuler, Persatuan Pelajar, Fasilitas Pembelajaran, dan lain-lain
15.     Catatan Mutu
16.     Prosedur-prosedur Pengesahan & Audit Mutu Internal
17.     Pelatihan dan Pengembangan Staf, mencakup Prosedur-prosedur untuk Menilai Kebutuhan-kebutuhan Pelatihan dan Evaluasi Efektifitas Pelatihan
18.     Metode-metode Review, Monitoring dan Evaluasi

2.7.MENUJU MUTU TERPADU
 Pengertian mutu :
·      Mutu adalah kebutuhan setiap manusia, kewajiban setiap orang untuk memberikan yang bermutu, siapapun akan puas bilamana kebutuhan mutunya terpenuhi, mutu diartikan sebagai kesesuaian dengan persyaratan dan peraturan perundang-undangan.
·      Menurut Philip B. Cosby Mutu adalah memenuhi persyaratan (conformance to requirement)
·      Menurut W.E. Deming Mutu adalah memenuhi kebutuhan pelanggan (meeting customer need)
·      Menurut ISO Mutu adalah totalitas karakteristik suatu produk yang menunjang kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dispesifikasikan atau ditetapkan.
Sedangkan mutu menurut beberapa ahli yang dikutip oleh Sprint Consultan (2002 : 5) adalah :
a.   Sesuai dengan kegunaan (Fitness For Use – J.M Juran),
b.  Memenuhi persyaratan pelanggan (Conform to Customer requirement – Philip B. Crosby),
c. Memenuhi harapan pelanggan (meeting Customer Expectations – A.V Fegenbaum),
d.    Kepuasan pelanggan (Customer satisfaction- K. Ishikawa)
Dari pengertian mutu, untuk mencapai mutu yang baik maka penyelenggara pendidikan harus mengenali siapa pelanggannya. Dengan mengenali pelanggan kita dapat menentukan mutu yang hendak dicapai sehingga memenuhi kepuasan pelanggan. Dalam proses penyelenggaraan pendidikan kita dapat mengkalisifikasikan dalam 2 jenis pelanggan :
a.    Pelanggan Internal
Adalah seluruh sumberdaya manusia yang terlibat dalam proses penyelenggaraan pendidikan, seperti peserta didik/mahasiswa, staff akademik, staf administrasi, teknisi,laboran dll. Sebagai satu sistem penyelenggaraan pendidikan masing masing saling memberikan input dan output yang saling mempengaruhi tercapainya mutu.
b.   Pelanggan Eksternal
Adalah masyarakat luar yang menggunakan produk dari hasil penyelenggaraan proses pendidikan seperti masyarakat, dunia industri, lembaga/ instansi.
Untuk memberikan jaminan mutu maka manajemen penyelenggaraan pendidikan harus fokus terhadap pelanggan. Karena pelangganlah yang membuat kita dapat mempertahankan eksistensi lembaga . Dua hal yang perlu di perhatikan untuk menjaga kesetiaan pelanggan diantaranya :
1.    Dimensi Mutu Produk
·                         Kinerja Produk (Performance)
·                         Ciri khas produk (Feature)
·                         Keandalan (Reliability)
·                         Kesesuaian (Conformity)
·                         Ketahanan (Durability
·                         Daya guna (service ability)
·                         Estetika (Esthetic)
·                         Kualititas yang dirasakan (Perceived Quality)
2.    Dimensi Mutu Pelayanan
·           Tangible : Penampilan fisik sekolah, fasilitas, penampilan guru, sarana komunikasi dan lain sebagainya.
·           Emphaty : Komunikasi yang baik, kemudahan untuk di-hubungi, memahami kebutuhan pelanggan dan adaya perhatian pribadi.
·            Resposiveness : Kemauan yang ikhlas untuk membantu pelanggan (siswa, orang tua dan masyarakat) dan memberikan pelayananan dengan cepat dan tanggap.
·           Reliability : Kemampuan memberikan pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan secara bertanggung jawab dan akurat.
·           Assurance : Pengelola sekolah memiliki kemampuan, kesopanan kredibilitas dan sifat dapat dipercaya serta adanya jaminan keamanan terhadap program pendidikan yang ditawarkan.
Oleh karena itu dalam upaya peningkatan mutu secara berkesinambungan diperlukan beberapa proses atau tahapan. Perkembangan untuk menuju mutu tepadu melalui beberapa tahapan sebagai berikut:
a. Budaya non mutu
Sumber daya manusia yang terlibat tidak seluruhnya memahami arti pentingya mutu, tidak, melakukan tanggung jawabnya sebagaimana mestinya dan sebagainya. Belum ada visi dan misi yang jelas dalam rangka mencapai mutu dan kalaupun ada masih belum tersosialisasikan target mutu ke seluruh civitas akademik. Sehingga seluruh sumber daya yang terlibat dalam proses pendidikan kurang menyadari bahwa pencapaian mutu adalah tanggung jawab bersama. Pencapaian mutu belum terencana, terdokumentasi dan terukur pencapaiannya maupun kemudahan melacak kembali prosedur pencapaian mutu tersebut. Pencapaian mutu masih tergantung individu bukan pada sistem kerja yang standar.
b. Menumbuhkan Kesadaran mutu
Untuk menumbuhkan kesadaran mutu pihak manajemen/pimpinan ( Kepsek, Rektor,Dekan dsb) menentukan kebijakan mutu (visi misi) , menentukan sasaran mutu, membangun komitmen, mensosialisasikan dan melatih seluruh karyawan dan secara aktif mengawasi kemajuan pelaksanaannya sehingga seluruh sumber daya manusia memiliki kesadaran mutu bertanggung jawab atas tugasnya dan melaksanakan tugas sesuai dengan prosedur yang ditetapkan. Perlu disadari bahwa tumbuhnya kesadaran mutu perlu didukung suatu lingkungan yang kondusif bagi terciptanya mutu. Maka kebijakan pimpinan, deklarasi komitmen untuk mencapai sasaran mutu dan pengawasan pencapaian mutu menjadi sangat penting.
c. Pengendalian mutu
Selama proses pencapain mutu perlu dilakukan pengawasan dan pengendalian mutu. Sasaran mutu yang telah ditetapkan sesuai prosedur yang terdokumentasi dilakukan pengawasan, pengendalian dan pendokumentasian proses pencapaiannya. Prosedur ini dilakukan dengan melakukan inspeksi inpeksi di setiap bagian, pembenahan dari prosedur yang menyimpang dari prosedur pencapaian mutu, pendokumentasian yang baik. Agar budaya mutu yang telah berjalan dapat dikontrol dan dievaluasi untuk lebih ditingkatkan maka perlu dibentuk tim pengendali mutu (audit mutu).
d. Jaminan mutu
Dengan adanya standar mutu, proses pencapaian mutu dikendalikan dengan baik sehingga dapat dipastikan bahwa mutu yang ditawarkan kepada pelanggan telah benar benar dilakukan dan dapat dibuktikan dengan adanya dokumen dokumen mutu maka dari hasil ini dapat dijadikan sebagai bentuk/wujud jaminan mutu kepada pelanggan. Jaminan mutu ini sebagai bentuk pelayanan kepada pelanggan bahwa memastikan proses penyelenggaraan pendidikan kejuruan telah berlangsung dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan melalaui prosedur dan catatan mutu yang terdokumentasi dan mudah ditelusur kembali.
e. Manajemen Mutu
Jika proses tahapan diatas telah terbentuk maka satu sistem managemen mutu telah terbentuk. Dengan terbentuknya satu sistem manajemen mutu beserta dokumentasi sistem manajemen mutu maka hasilnya dapat dijadikan dasar untuk menentukan target mutu berikutnya. Maka upaya pencapaian dan peningkatan mutu secara berkesinambungan akan lebih mudah dilaksanakan, sehingga harapan untuk pengelolaan pendidikan kejuruan dengan mangemen professional dapat dicapai
F. Manajemen Mutu Terpadu
Manajemen mutu terpadu akan tercipta jika setiap bagian dari awal proses hingga akhir proses penyelenggaraan pendidikan sudah terkontrol dengan baik , dilakukan menurut standar-standar/prosedur mutu yang telah ditetapkan, dilakukan pencatatan dan dokumentasi prosedur yang menyimpang sehingga ada catatan catan mutu untuk peningkatan mutu selanjutnya dan semua prosedur pencapaian mutu telah dikelola dan terdokumentasikan dengan baik.
Upaya agar mencapai mutu sesuai dengan yang diharapkan, tidaklah mudah seperti membalik telapak tangan. Untuk memperoleh mutu yang baik maka harus diciptakan suatu budaya mutu dilingkungan pendidikan, setiap unsur yang terlibat harus saling bekerjasama, komitmen, penuh tanggung jawab, konsisten dan berkesinambungan untuk mewujudkan mutu. Ada tiga faktor yang diperlukan untuk mencapai mutu terpadu :
a. Manajemen
Pimpinan puncak (Kepsek, Rektor,Dekan) harus menetapkan kebijakan mutu, menentukan rencana pencapaian ,mengalokasikan sumber daya dan secara aktif terlibat dalam pengawasan kemajuannya. Kebijakan Mutu yang dibuat harus tersosialisasikan kepada seluruh civitas akademik.
b. Manusia
Sumber daya manusia(tenaga pengajar, karyawan, teknisi, peserta didik) sebagai pelaksana dan objek untuk mencapai tujuan (mutu) harus memiliki kesadaran mutu, komitmen dan tanggung jawab serta terlibat secara aktif mewujudkan tercapainya mutu yang diharapkan. Ketercapaian mutu tidak hanya tanggung jawab pimpinan (Kepsek, Rektor, Dekan) tetapi semua elemen ikut berperan aktif dan bertanggung jawab atas tercapainya mutu.
c. Sistem/Proses
Menurut ISO seperti yang dikutip oleh Lembaga Bantuan Manajemen (LBM) Sistem mutu adalah struktur organisasi ,tanggung jawab, prosedur, proses dan sumber daya untuk menerapkan manajemen mutu. Untuk itu dalam pencapaian mutu perlu dibentuk satu sistem mutu sesuai proses produksi yang ada di lingkungan tersebut . Sehingga sistem mutu dibangun berlandaskan kekuatan sumberdaya sendiri untuk mencapai mutu yang diharapkan serta peningkatan mutu secara berkesinambungan. Oleh karena itu setiap sumber daya yang terlibat dalam satu sistem mutu ini harus mampu bekerjasama konsisten, bertanggung jawab, komitmen untuk mewujudkan mutu sesuai yang ditetapkan . Dalam membangun sistem mutu harus disesuaikan dengan proses penyelenggaraan pendidikan meliputi pengelolaan sumberdaya, proses belajar mengajar, hasil pendidikan yang diharapkan (sesuai keinginan pasar).
Dalam membangun sistem manajemen mutu akan lebih mudah dari lingkungan yang terkecil artinya adalah memulai dari diri sendiri. Untuk itu maka laksanakanlah prinsip dasar ISO 9000 yaitu
1. Tulis apa yang dikerjakan (Plan)
2. Kerjakan apa yang ditulis (Do)
3. Periksa dan Tinjau (Chek dan Review)
4. Dokumentasikan dengan baik (Standar Mutu)
5. Naikkan Standar Sasaran Mutu dan kembali ke langkah 1







BAB  III
PENUTUP
3.1.  Kesimpulan
Upaya agar mencapai mutu sesuai dengan yang diharapkan maka harus diciptakan suatu budaya mutu dilingkungan pendidikan Dengan terciptanya hal tersebut maka Standar kompetensi yang diharapkan dapat tercapai dengan efektif dan efisien dan melaksanakan fungsi fungsi manajemen yang professional untuk mencapai standar kompetensi yang diharapkan dengan menerapkan siklus PDCR (Plan,Do Chek ,Reviewing) menuju SDCR (Standar, Do,Chek, Reviewing) secara berkesinambungan untuk menuju kemajuan
Salah satu kunci agar sukses dapat bersaing dipasar global adalah kemampuan untuk memenuhi atau melampaui standar-standar yang berlaku. Apabila kualitas ditentukan oleh pelanggan, maka standar-standar kualitas sama dengan harapan pelanggan. Untuk menjamin adanya keragaman dalam kualitas maka perlu dibentuk standar-standar yang sama pula. Dengan cara ini maka apa yang dianggap sebagai produk berkualitas disuatu negara juga akan dapat diterima dinegara lainnya.

3.2.  Saran
Agar mutu dan kualitas pendidikan kita dapat bersaing dalam menghadapi globalisasi dunia pendidikan internasional maka dalam melakukan penjaminan mutu pendidikan yang berkaitan dengan kurikulum, mutu dan jumlah tenaga kependidikan, keadaan siswa, pelaksanaan pendidikan, sarana dan prasarana, tatalaksana administrasi akademik, kepegawaian, keuangan dan kerumah-tanggaan sekolah haruslah disesuaikan dengan kriteria persyaratan sertifikasi standar ISO 9000.









DAFTAR PUSTAKA

Sallis, E. 2007. Total Quality Management In Education. Manajemen Mutu Pendidikan. Alih Bahasa Oleh Dr. Ahmad Ali Riyadi, Fahrurrozi, M.Ag. Jogjakarta: IRCiSoD
Tjiptono, F & Diana, A. 2002. Total Quality Management. Edisi Revisi. Jogjakarta: Penerbit Andi Administrator. 2007. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Jakarta: Depdiknas
Lembaga Bantuan Manajemen Bandung (2000); Pengenalan ISO 9000; Hand Out Materi Pelatihan ISO 9000; Yogyakarta , 2000.
Noor fitrihana, (2004) Penerapan ISO 9000 pada penyelenggaraan pendidikan kejuruan, Proceeding Konvensi Nasional II FPTK, Jakarta, 2004
Sprint Consultant (2002); Kesadaran Mutu ISO 9000; Makalah Seminar Kesadaran Mutu: Yogyakarta, 2002.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar